Kamis, 21 Februari 2013

✿ :::MAAF KAN AKU BELUM SEMPAT MEMANGGIL MU AYAH::: ✿

0 komentar
"Ayah kandungku meninggal krn kanker paru² stadium akhir saat saya berusia 6 thn. Beliau juga meninggalkan Ibu&Adik saya yg masih berusia 2 thn. Sejak saat... itu kehidupan kami se-hari² sangat sulit. Setiap hari Ibu bekerja membanting tulang di sawah hanya cukup utk menyelesaikan masalah perut saja.

Saat saya berusia 9 thn, Ibu menikah lagi&menyuruh kami memanggilnya Ayah. Pria tsb adlh Ayah Tiri saya. Utk selanjutnya Beliau yg menopang keluarga kami.

Dlm ingatan masa kecil, Ayah Tiri saya seorang yg sangat rajin, Beliau juga sangat menyayangi Ibu. Pekerjaan apa saja dlm keluarga yg membutuhkan tenaganya akan Beliau lakukan, selamanya tdk membiarkan Ibu utk campur tangan.

Se-hari² Ayah Tiri adlh orang yg pendiam. Usianya kira² 40-an lebih, berperawakan tinggi&kurus, tetapi bersemangat. Dahinya hitam, memiliki sepasang tangan besar yg kasar, di wajahnya yg kecoklatan terdapat sepasang mata kecil yg cekung.

Ayah Tiri saya mempunyai suatu kebiasaan, tdk peduli pergi kemana pun, diatas pinggangnya selalu terselip sebatang pipa rokok antik berwarna coklat kehitaman. Setiap ada waktu senggang dia selalu menghisap rokok menggunakan pipa itu. Sejak dulu saya tdk suka dgn perokok, oleh karenanya saya juluki dia dgn sebutan “setan perokok”.

Dlm ingatan saya, Ayah Tiri selalu tenang dlm menghadapi segala persoalan, tdk peduli besar kecilnya permasalahan selalu dihadapinya dgn santai. Namun hanya krn sebatang pipa rokok, Ayah Tiri tlh memberikan saya satu tamparan yg sangat keras.

Teringat wkt itu Ayah Tiri baru saja menjadi anggota keluarga kurang lebih ½ thn, suatu hari saya menyembunyikan pipa rokoknya. Hasilnya, Beliau selama bbrp hari merasa gelisah&tdk tenang, sepasang matanya merah laksana berdarah. Akhirnya krn saya diinterogasi dgn keras olh ibu, dgn berat hati saya menyerahkan pipa rokok itu.

Ketika saya menyerahkan pipa itu kehadapan Ayah Tiri, Beliau menerimanya dgn tangan gemetaran&tak lupa Beliau memberikan saya satu tamparan keras, kedua matanya berlinangan air mata.

Saya sangat ketakutan&menangis, Ibu menghampiri&memeluk kepala saya lalu berkata, “Lain kali jgn pernah menyentuh pipa rokok itu, mengertikah kamu? Pipa itu adlh nyawanya!”

Stlh kejadian itu, pipa rokok itu menjadi penuh misteri bagiku. Saya berpikir, “Ada apa dgn pipa itu shg membuat Ayah Tiri bisa meneteskan air mata? Pasti ada sebuah kisah tentangnya.”

Mungkin tamparan itu tlh menyebabkan dendam terhadap Ayah Tiri, gak peduli bgmnpun jerih payah pengorbanannya, saya gak pernah menjadi terharu. Sejak usia belia, saya selalu berpendapat Ayah Tiri sama jahatnya spt Ibu Tiri dlm dongeng Puteri Salju. Sikap saya terhadap Àyah Tiri sangat dingin, acuh tak acuh, lebih² jangan harap menyuruh saya memanggil dia “Ayah”.

Tapi ada sebuah peristiwa yg membuat saya mulai ada sedikit kesan baik terhadap Ayah Tiri.

Suatu hari ketika saya baru pulang sekolah, begitu masuk rumah segera melihat kedua tangan Ibu memegangi perut sambil berteriak kesakitan. Ibu ber-guling² di ranjang, butiran besar keringat dingin bercucuran di wajahnya yg pucat.

Celaka! Penyakit maag Ibu kambuh lagi! Saya&Adik menangis mencari Ayah Tiri yg bekerja di sawah. Mendengar penuturan kami, dia segera membuang cangkul ditangannya, sandal pun gak sempat dia pakai. Sesampai di rumah tanpa berkata apapun, segera menggendong Ibu ke rumah sakit spt orang sedang kesurupan. Ketika Ibu&Ayah Tiri kembali ke rumah, hari sudah larut malam, Ibu kelelahan tertidur pulas di atas pundak Ayah Tiri.

Melihat kami berdua, Ayah Tiri dgn nafas ter-sengal², tertawa&berkata kpd kami, “Beres, sdh tdk ada masalah. Kalian pergilah tidur, besok masih hrs bersekolah!” Saya melihat butiran keringat sebesar kacang berjatuhan bagai butiran mutiara yg terburai, jatuh pd sepasang kaki besarnya yg penuh tanah.

Kesengsaraan yg saya alami dimasa kecil, membuat saya memahami penderitaan seorang petani. Saya menumpahkan segala harapan saya pd ujian masuk ke Universitas. Tetapi pertama kali mengikuti ujian, saya mengalami kegagalan.

“Bu, saya sangat ingin mengulang sekali lagi,” pinta saya pd Ibu.

“Nak, kamu tahu sendiri keadaan ekonomi kita, adikmu juga masih sekolah di SMA, kesehatan Ibu juga tdk baik, pengeluaran dlm keluarga semua menggantungkan Ayahmu. Lihatlah sendiri ada berapa gelintir orang di desa ini yg mengenyam pendidikan SMA? Ibu berpendapat kamu pulang ke rumah utk membantu Ayahmu!”

Tp saya sdh menetapkan niat, bersikap teguh tdk mau mengalah. Saat itu Ayah Tiri tdk mengatakan apa², Beliau duduk di halaman luar menghisap rokok dgn pipa kesayangannya. Saya tdk tahu di alm benaknya sedang memikirkan apa.

Esok harinya Ibu berkata pd saya, “Ayah setuju kamu kuliah, giatlah belajar!”

Ayah Tiri menjadi orang yg pertama kali menerima&membaca surat penerimaan mahasiswa saya. “Bu, anak kita diterima diperguruan tinggi!” teriaknya.

Saya&Ibu berlari keluar dr dapur. Ibu melihat&membolak-balik surat panggilan itu meski satu huruf pun dia tdk mengenalinya. Tetapi kegembiraan itu tersirat dr tingkah lakunya. Malam itu tak tahu mengapa Ayah Tiri sangat gembira hingga bicaranya juga banyak.

Tetapi utk selanjutnya biaya uang sekolah perguruan tinggi sejumlah 4.000.000 itu membuat keluarga cemas. Ibu mengeluarkan segenap uang tabungannya serta menjual&meminjam kesana kemari, tetap masih kurang 500.000.

"Gimana nih? Kuliah akan dimulai satu hari lagi". Saat makan malam, hidangan diatas meja tdk ada seorang pun yg menyentuhnya. Ibu menghela napas panjang sedangkan Ayah Tiri berada disampingnya sambil merokok, sibuk memperbaiki alat tani ditangannya, saya tdk tahu mengapa hatinya begitu tenang? Suara napas Ibu membuat hati saya hancur luluh lantak.

“Sudahlah saya tdk mau kuliah! Apa kalian puas?” Saya berdiri dgn gusar,&bergegas masuk kamar, merebahkan diri di ranjang lalu mulai menangis…….. Saat itu saya merasakan ada satu tangan besar yg keras me-nepuk² pundak saya, “Sudah dewasa masih menangis, besok Ayah pergi berusaha, kamu pasti bisa kuliah.”

Malam itu Ayah membawa pipa rokoknya, menghisap seorang diri di halaman rumah hingga larut malam, percikan api rokok yg sekejap terang&gelap menyinari wajahnya yg banyak mengalami pahit getir kehidupan. Dia memejamkan sepasang mata, raut wajahnya menyembunyikan perasaan&sangat berat. Kepulan asap rokok dgn ringan menyebar didepan matanya, mengaburkan pandangan, tak seorang pun tahu apa yg sedang dia pikirkan, tetapi yg pasti dlm hatinya tdk tenang.

Besoknya Ibu memberitahu saya bhw Ayah Tiri pergi ke kabupaten. “Pergi utk apa?” Percikan bunga api dr harapan hati saya tersirat keluar.

“Dia bilang pergi ke kota mencari teman menanyakan apakah bisa pinjami uang.”

“Apa usaha temannya?” Ibu menggelengkan kepala, mulutnya bergumam, “Gak tahu.”

Hari itu saya menunggu di depan desa, memandang ke arah jalan kecil yg ber-kelok². Utk kali pertama perasaan hati saya ada semacam dorongan ingin bertemu Ayah Tiri,&utk kali pertama saya merasakan berharganya sosok Ayah Tiri dlm jiwa saya, masa depan saya tergantung pd dirinya.

Hingga malam saya baru melihat Ayah Tiri pulang. Saat saya melihat wajahnya yg penuh senyuman, hati saya yg selalu cemas, akhirnya bisa merasa lega. Ibu bergegas mengambil seember air hangat utk merendam kakinya. “Celupkanlah kakimu, berjalan pulang pergi 40 ㎞ perjalanan cukup membuat lelah.” Dgn lembut Ibu berkata pd Ayah Tiri.

Saya mengamati wajah Ayah Tiri dgn saksama,&menemukan bhw Beliau bukan lagi seorang pria yg masih kuat&kekar spt dulu. Wajahnya pucat pasi&bibir membiru, dahinya hitam penuh dgn kerutan, rambut pendek serta tangan kurus bagaikan kayu bakar, penuh dgn tonjolan urat hijau.

Memang benar, Ayah Tiri sdh tua. Dgn hati² Ibu melepaskan sepasang sepatunya yg hampir rusak. Di bawah sinar temaram lampu neon, terlihat sebuah benjolan darah besar yg sdh membiru masuk dlm pandangan saya, tak tertahankan hati saya merasa sedih, air mata saya diam² menetes keluar……..

Keesokan hari ketika saya berangkat kuliah, Ayah Tiri mengatakan Beliau tdk enak badan, diluar dugaan Beliau tdk bisa bangun dr tempat tidur.
Dlm perjalanan mengantar saya kuliah Ibu berkata, “Nak, kamu sdh dewasa, diluar sana semuanya tergantung pd diri sendiri. Sebenarnya Ayah Tirimu itu sangat menyayangimu, Dia sangat mengharapkanmu memanggilnya Ayah! Tetapi kamu……”

Suara Ibu sesenggukan, saya menggigit bibir dgn suara lirih berkata, “Lain kali saja, Bu!”

Setiap kali membayar uang kuliah, Ayah Tiri pasti pergi ke kota utk meminjam uang. Ketika liburan musim dingin&panas tiba, saya jarang berbicara dgn Ayah Tiri di rumah, Beliau sendiri juga jarang menanyakan keadaan saya. Tetapi kegembiraan Ayah Tiri bisa dirasakan setiap orang.

Setiap kali kembali ke tempat kuliah, Ayah Tiri pasti akan mengantar sampai ke tempat yg cukup jauh. Sepanjang perjalanan Beliau kebanyakan hanya menghisap pipa rokoknya. Semua kata² yg ingin saya utarakan kpdnya tdk tahu hrs dimulai dr mana.

Sebenarnya dlm hati kecil sejak dulu sdh menerimanya spt ayah kandung, cinta kasih kadang kala sangat sulit utk diutarakan! Dgn demikian saya selalu tdk bisa merealisasikan janji saya terhadap Ibu.

Pd liburan thn baru, rumah terkesan ramai sekali. Saat itu saya sdh kuliah di semester-6. Adik meminta saya bercerita tentang hal² menarik di kota,Ayah Tiri duduk di belakang Ibu, sibuk mengeluarkan abu tembakau stlh itu memasukkan tembakau ke dlm pipa, wajahnya penuh dg senyum kebahagiaan. Saya bercerita ttg keadaan kota, Adik membelalakkan mata dgn penuh rasa ingin tahu.

“Ah, teman sekelas kakak kebanyakan sdh mempunyai ponsel&laptop, sedangkan kakak sebuah arloji pun tdk punya.......” Pd akhirnya saya mengeluh dgn nada bergumam. Saat itu saya melihat wajah Ayah Tiri sedikit tegang, segera ada perasaan menyesal tlh mengucapkan kata itu.

Saat liburan usai saya hrs meninggalkan rumah kembali kuliah. Spt biasa Ayah Tiri mengantarkan saya. Sepanjang perjalanan, bbrp kali Ayah Tiri memanggil saya, tetapi ketika saya menanggapi, dia membatalkan berbicara, sptnya mempunyai beban pikiran yg sangat berat. Saya sangat berharap Ayah Tiri bisa memulai topik pembicaraan, agar bisa berkomunikasi baik dgnnya, namun saya selalu kecewa.

Ketika berpisah, Beliau berkata dgn kaku, “Saya tdk mempunyai kepandaian apa², tdk bisa membuat hidup kalian bahagia, saya sangat menyesalinya. Jika engkau sukses kelak, hrs berbakti pd Ibumu, biarkan Ibumu bisa menikmati hari tua dgn bahagia…” Saya menerima koper baju yg disodorkannya.

Tiba² saya melihat sepasang matanya ber-kaca². Hati saya menjadi trenyuh, mendadak merasakan ada semacam dorongan hati yg ingin memanggilnya “Ayah”, tp kata yg tlh mengendap lama ini akan terlontar dari mulut, mendadak tertelan kembali.

Ketika saya tlh berjalan jauh, saya lihat Ayah Tiri msh berdiri ditempat itu sama sekali tak bergerak, bagaikan patung.
Dlm hati saya berjanji: ketika pulang nanti, saya pasti akan memanggilnya “Ayah”. Namun kesempatan itu tak pernah saya dapatkan lagi. Saya tak mengira perpisahan kali ini utk selamanya.

2 bln stlh itu saya mendapat kabar bahwa Ayah Tiri meninggal dunia. Bagaikan halilintar di siang bolong, benak saya menjadi kosong, serasa dunia ini sdh tiada lagi. Saya pulang dgn perasaan linglung, yg menyambut saya dirumah adlh pipa rokok berwarna coklat kehitaman yg tergantung di tembok.

“Satu²nya hal yg paling disesali Ayah adlh tdk sehrsnya menamparmu, setiap kali mengantarmu kembali ke kampus, dia sangat ingin meminta maaf, tetapi ucapan itu selalu tak bisa keluar dr mulutnya. Sebenarnya mslh itu tdk bisa menyalahkan dirinya, kamu tdk tahu betapa sengsara hatinya, pipa itu adalah kesedihan seumur hidupnya!” Dgn hati pedih Ibu bercerita.

Melihat benda peninggalan itu teringat pemiliknya, dgn hati² saya ambil pipa yg tergantung di tembok itu, pandangan mata saya kabur krn air mata, merasakan kesedihan yg menusuk hati. Ibu juga tergerak hatinya, dia lalu bercerita tentang misteri pipa rokok itu…

30 thn lalu, Ayah Tiri hidup saling bergantung dgn Ayahnya. Ibu dgn Ayah Tiri adlh teman sepermainan sejak kanak². Stlh mrk tumbuh dewasa, mrk sdh tak terpisahkan lagi. Tetapi jalinan kasih mrk mendapatkan tentangan keras Kakek, sebab keluarga Ayah Tiri terlalu miskin.

Krn Ibu&Ayah Tiri dgn tegas mempertahankan hubungan mrk, Kakek terpaksa mengajukan sejumlah besar mas kawin kpd keluarga Ayah Tiri baru mau merestuinya.

Demi anak satu²nya, Ayah dari Ayah Tiri itu pergi bekerja di perusahaan penambangan batu bara. Malang tak dpt ditolak, terjadi kecelakaan di tambang itu. Dinding tambang runtuh&menimbun sang Ayah utk selamanya. Barang peninggalan satu²nya hanyalah pipa rokok kesayangannya semasa hidup.

Ayah tiri sangat sedih, seumur hidup orang yg paling dia hormati&sayangi adlh Ayahnya. Kemudian Ayah Tiri menyalahkan dirinya&merasakan penyesalan yg mendalam hingga tak ingin hidup lagi.

Keesokan harinya dia diam² meninggalkan rumah dgn membawa pipa rokok itu, tak seorang pun tahu kemana perginya…

Dua thn kemudian Ayah Tiri kembali lagi kekampung halamannya, tetapi 1 thn sebelum Ayah Tiri kembali, Ibu dipaksa utk menikah ( dgn ayah kandung saya). Utk selanjutnya Ayah Tiri tdk menikah, yg menemani hidupnya adlh sebatang pipa rokok yg tdk pernah lepas darinya.

Stlh Ayah kandung meninggal, Ayah Tiri memberanikan diri menanggung segala tanggung jawab utk menjaga Ibu, Saya&Adik. Sejak awal Beliau menolak mempunyai anak sendiri, Beliau berkata kami ini adlh anak kandungnya.

Selesai mendengarkan penuturan Ibu, tak terasa wajah saya penuh dgn air mata. Sungguh tak menduga jika pipa rokok itu bukan hanya memiliki kisah berliku perjalanan cinta mrk, namun juga mengandung ingatan yg amat berat seumur hidup Ayah Tiri!

“Ayah Tiri meninggal dunia krn pendarahan otak, sebelumnya dia sudah tdk bisa berbicara, hanya memandang Ibu dgn tangannya menunjuk ke arah kotak kayu. Ibu mengerti maksudnya hendak memberikan kotak kayu tsb kpdmu. Di dlm kotak itu terdapat bbrp lembar surat hutang, mungkin dia bermaksud menyuruhmu membayarkan hutangnya. Seumur hidupnya, dia tak ingin berhutang pd orang lain….”

Dgn sesenggukan saya menerima kotak kayu itu&membukanya dgn perlahan. Ada 8 lembar kertas di dlmnya. Saya membacanya&terkejut bukan main, tubuh menjadi lemas terkulai diatas ranjang.

Ibu saya buta huruf, kertas² yg ada dlm kotak itu bukan surat hutang spt yg dikatakannya, melainkan tanda terima jual darah! Ayah tiri tlh menjual darahnya! Kepala saya terasa pusing&tangan saya lemas. Kotak kayu itu terjatuh, dr dlmnya menggelinding keluar sebuah alroji baru…

“Ayah! Ayah..” Berlutut didepan kuburan Ayah Tiri dgn air mata bercucuran, saya hanya bisa me-nepuk² onggokan tanah merah yg ada dihadapan saya. Tetapi biar bgmnpun saya ber-teriak², tetap tak akan memanggil kembali bayangannya.

Ketika saya pergi meninggalkan rumah, saya membawa pipa rokok coklat kehitaman itu, saya akan mendampingi pipa ini utk seumur hidup saya, mengenang Ayah Tiri utk selamanya.

Kesimpulan: sesunggahnya sebaik2nya dan seburuk2 apapun hidup kita di dlam hidup ini, kita tidak lebih mengerti tentang apa yg di namakan penderitaan seorang ayah. Tanpa dia(ayah) aku tak akan bisa menjadi lebih baik seperti ini..

Ayah..
Terima kasih atas keringatmu!
Ayah maafkan atas keinginan anakmu ini yg tak terbatas..
Maafkaan aku yg slalu mngingkan sesuatu jauh di luar batas kemampuanmu...
Aku hanya seorang penumpang..
Yg menopang hidup dari tetes keringat hidup seorang ayah!

yah,
setetes keringatmu yg asin
adalah madu bagi kami...
Yang Sangat manis!
read more

✿ :::Kisah mengharukan seorang kakak beradik::: ✿

0 komentar
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. ” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! “Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”
Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Kesimpulan :
Bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, … tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan sodara dan keluarga kita...
read more

✿ :::Persahabatanku bersamamu::: ✿

0 komentar



















Andai rupa menjadi ukuran,
aku tak layak menjadi temanmu.

Andai harta menjadi sandaran,
aku mungkin tak mampu menjadi sahabatmu.

Andai pangkat dan kedudukan menjadi perhatian,
aku mungkin tak berdaya menjadi sekutu.

Andai hobi menjadi keselarasan,
aku mungkin tak bisa mendampingimu

Andai pendidikan menjadi pilihan,
aku mungkin tak mampu berbagi denganmu

Namun Begitu...
jika keikhlasan dan kesetian menjadi pilihan,
dengan izin Allah aku mampu menjadi teman
yang selalu ada di sampingmu.. ♥
read more

✿ :::Ajal menjemput kala senja itu::: ✿

0 komentar


























dear Allah, Senja ini tlah kau utus saja lagi malaikatMu,
aku menyaksikan kau panggil lagi umatMu di penguhujung senjaMu..
keranda hijaunya melintasi wajah dukaku,
ya robb, bunga mawar itu menutupi tanah basahnya,
wanginya semerbak menyusup kalbu,
ia di azankan seperti semasa hidupnya kau pnggil ia sejenak di hadapanMu..
dan kini dengan azanMu, kau panggil ia di hadapanMu untuk selamanya?
namun y rabb, semasa ia hidup di bumiMu
adakah ia datang hampiri kamu dalam sholatnya, rumahMu?
siapapun ia ya Muhaimin..
ampunilah dosa-dosanya, terimalah amal ibadahnya

dan sesungguhnya nikmat ini masi kurasakan
masi nikmati hidup ini dengan segala fasilitasMu
sering kali keranda itu melintasi beranda hidupku
semoga semakin ingat aku, semakin sadar aku, tawakalku.
bertambahlah keimananku, amin.

panggil aku dengan baik aku
jemput aku dengan sebaiknya caraMu
agar aku tenang, nyaman, indah di sampingMu.. ♥
read more

Kata-kata renungan untuk kematian

0 komentar
"Kematian adalah suatu perkara yang menyedihkan, tetapi jangan bimbang kerana bertemu dengan Allah, adalah suatu kegembiraan yang tidak dapat digambarkan.."

" Mati adalah suatu hal yg pasti, bahkan terlalu pasti sehingga kerana pastinya, tidak ada sesuatu kekuatan pun yg dapat menolak kedatangannya "

" Ajal datang tanpa kabar berita, sediakan perbekalan untuk menghadapinya "

" Hari ini aku mampu memakai pakaian yang cantik dan mahal harganya, tetapi suatu hari nanti aku hanya mampu memakai kain putih saja "

" Ingatlah walaupun derajat di dunia kita jauh berbeda, kain kafan kita tetap pada 1 warna (putih) "

dan ingatlah...
" Setiap waktu berlalu bermakna kita ikut kehilangan waktu untuk beramal dan beribadah..! semakin bertambah waktu semakin dekat kita dgn Pencipta "

Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. (Al Hijr:43 ﴿

" Jangan Hitung Berapa Kali Org Mengecewakn & Meninggalknmu Tetapi Hitung Berapa Kali Kamu Mengecewakn Allah. Tetapi Dia Tidak Pernah Meningalknmu "

Biarlah menangis di dunia ini kerana mentaati perintah ALLAH, dan jangan biarkan kita menangis di akhirat kerana azab akibat mengingkari perintah ALLAH.. Nauzubillahiminzalik..

read more

Senin, 10 Desember 2012

Realita kehidupan

0 komentar

Begitu panjangkah perjalanan hidup ini
sehingga mereka yang di ciptakan melupakan tuhan yg menciptakannya?

begitu panjangkah hidup ini tanpa memiliki akhir?
sehingga mereka yang mengutamakan kesenangan dunia
melupakan kewajibanya..

begitu nyamankah kesenangn di dunia ini
sehingga bagi mereka yang mengutamakan kebahagian dunia
melupakan di mana ia harus di tempatkan suatu saat nanti
aku selalu mengingat mati karna mati bukan pilihanku satu-satunya
tetapi matilah satu-satunya yang akan memilihku suatu saat nanti

ketika aku mengingat mati
aku salalu mengingat siapa yang menciptakanku
dia yang mengadakan hidup ini
dan dia yang memanggilku kapanpun ia mau..

ketika aku mengingat mati
aku selalu ingat dimana aku harus di tempatkan setelah aku mati
itu membuatku mengingatNya
aku mengingat kewajiban yang harus aku tekunkan
karna itu yang akan membuatNya mendekat kepadaku
karna itu yang akan membuatku mendapatkan hatiNya

“ aku rasa ketika aku menulis tulisan kecil ini “
ia melihat dan mengetahui apa yg aku fikirkan..
maukah ia berkasihan terhadapku?
hingga ia mau mmberikan waktunya untuk dapat lebih lama ku nikmati hidup ini..
karna hidup ini terlalu singkat hanya untuk melakukan hal-hal yang membuatku berdosa dan maksiat..
hidup ini terlalu banyak memberikan pilihan untukku mendekat ke hal2 yang tidak baik..
hidup ini terlalu lama sehingga membuatku merasa jauh dengan kematian
hidup ini begitu lama hingga membuat ku berlarut2 dalam menikmati kesenangan..


“ aku rasa ketika aku menulis tulisan kecil ini “
ia melihat dan mengetahui apa yg aku rasakan.
maukah dia sedikit memberikan belas kasihannya kepadaku?
hingga ia mau memberikan sedikit lagi waktunya untuk menikmati hidup ini
sesaat ajal menjemputku nanti
aku hanya ingin sebentar, itu saja.
aku hanya masi ingin berada di tengah-tengah keluargaku
aku hanya masi ingin berada di samping ibuku
aku hanya  masi ingin berada di pelukan ayahku
aku hanya masi ingin melihat senyum lepas dari adik adik kecilku
aku hanya ingin di tengah-tengah mereka yang aku cinta
akankah kau izinkan tuhan?
permintaan yang tak mungkin ini
kau telah menjemputku
aku hanya dapat meratap mereka di sana kan? :)

tuhan..
jika memang sebelum aku di ciptakan
engkau telah tahu aku akan menjadi insan yang gagal
mengapa engkau tidak membalikan takdirmu
lebih baik tidak menciptakan aku di sini

tuhan..
jika memang sebelum aku di ciptakan
engkau telah mengerti pasti aku tingalkan keluarga yang aku sayang
mengapa kau ciptakan aku?
hanya untuk bersedih hati
melihat mereka mengeluarkan air matanya untukku
mengingat kenangan yang ku tinggalkan bersamanya
mengingat masa kecilku di buai di peluk ibuku
mengingat masaa kecilku ku cium tangan ku cium ke dua belah pipinya

tuhan..
baru saja aku kemarin di lahirkan
hingga sekarang aku sudah sebesar ini :)
bagiku itu begitu singkat krna aku tak akan melewati apa yang telah aku lewati lagi
yang aku tahu harii esok aku akan menyusuri jalan ini
jalan yang biasa aku lewati, hingga tanpa aku sadari saat itu ajal menjemputku..

apa yang akan aku perbuat lagi?
sungguh aku tak tahu apa2
kemana aku? sungguh aku tak mengerti..
karna massa2 itu belum aku lewati
jalan kematianku belum ku tempuhi
tanpa sadar kian hari kian waktu mendekatkan aku terhadapnya..
terhadap massa2 yang kian menentu, menentukan aku untuk meninggalkan..
meninggalkan sebuah cerita singkat..

aku tak merubahnya saat ini juga
krna aku hanya terfokus pada kehidupanku
aku hanya mencari celah demi celah
bagimana untuk dapat membuatku senang dan bahagia dalam hidup ini

Begitu panjangkah perjalanan hidup ini
sehingga mereka yang di ciptakan melupakan tuhan yg menciptakannya?


teman,
aku hanya ingin bercerita tentang sesuatu terhadapmu
ayah mengatakan

“ allah “
kata itu yg slalu ia katakan terhadapku
ia ceritakan tentang ke akrabannya terhadap tuhaNya
ia ceritakan bagaimana ia mengenal tuhanNya
aku rasa aku akan akrab kepada sahabat lamanya itu
karena slalu di saat bertemunya aku dengan ayahku
selalu ia ceritakan tentang keakrabannya dengan teman lamanya itu.. 

dan ayah selalu mengingatkan
 “ terus sebut namaNya, jangan letih menyapa diriNya “
" dia akan mengenalmu, dia akan mengenal hambaNya yang sering menyebut dan menyapa namaNya “

" dia tidak akan memberikan modal yang lebih untuk dapat menjadikamu seorang hamba"
" sehingga kamu di ciptakan untuk dapat mneyembahnya “

oiya!
satu gengam kalimat yang tidak pernah aku lupa dari ayahku
dan itu selalu membuatku ingat dan memaksaku slalu meneteskan air mata
" ketika hidupku dulu pahit satu harapan dalam doa ku mohonkan kepada tuhan “
" biarkan diri ini susah dan sengsara saat ini tuhan "
" jangan biarkan anak istri ku nanti merasakan pahitnya kesengsaraan beban hidupku saat nanti"
" jangan kau biarkan mereka merasaka apa yang aku rasakan "
" simpan senyum dn bahagia ini hanya untuk mereka di massa depanku “

teman tahukah kalian
ayah mengatakan kepadaku bahwa kk angkat kandung dari anak kk ibuku sebentar lagi kan menikah
dan aku sangat senang mendengarkanya

dan ayah ajarkan aku tentang sesuatu
tentang seorang istri yang paham pasti dengan agamanya
karna ayah akrab sekali dengan agamanya

ia ingin aku menemukan teman dekat yang paham pasti dengan teman akrabnya itu
agar kami selalu akrab dan mengenal baik dalam hidup ini..

ayah beritahu aku seoarng istri yang baik adalah seorang istri
yang memberlakukan agama di atas segalanya..

dan tahukah kalian?
seorang istri yang sangat banyak ke inginanya dalam dunia ini
akan membuatku letih dlam mengimbangi inginya suatu saat nanti

kecantikan akan menyesatkan bila di ambil sebagai pedoman
kekayaannya akan menyusahkan bila di ambil hanya sebagi persinggahan.

harta itu adalah pengecualian
bagi mereka yang mengerti hidup ini adalah kesementaraan dalam titipan
harta itu adalah tujuan
bagi mereka yang gemar dan terpaku dalam kebahagiaan kehidupan

yang terpenting dalam hidup ini adalah panutan
panut kan hidupmu kepada landasan agama yang telah di benarkan
panutkan hatimu pada tuntunan agama yang telah di wajibkan

karna itulah yang akan menjagamu
karna itulah yang menjadi tujuanmu
tingkatkan kualitasmu dalam hidup ini
karna wanita ingin di jaga dan di lindungi dengan baik!

dengan ilmu dunia ini seperti dalam lembaran kertas
krna dengan ilmu langkah hidupmu kan berkualitas
buka saja lembaranya, dan di sana kamu akan mengerti.

dan jangankan kau dapat membukanya?
sedangkan melihat lapisan luarnya saja tak kuasa
dan ketika kau telah berhasil membuka lembaran demi lembaran dengan baik
tutuplah dengan sampul kebenaran insallah hidupmu akan lebih terjaga

biarkan ilmu sebagai kendaraan yang menghantarkanmu
biarkanlah ilmu sebagai sarana dalam kemudahan
karna ilmu yang akan membenarkan
karna ilmu menjadikan benar pada tiap kesalahan


oiya..
tentang wanita yang cantik tadi?
kamu boleh mencintai wanita yang cantik :)
menyukai wanita yang pintar :)
itu bukanlah sebuah kesalahan
ketika dimana kamu telah menemukan seoarng wanita
yang menjadikan agama sebagai sebuah ke utamaan

cantik, pintar, maupun  kaya itu sebuah pengecualiaan
setelah kamu menemukan wanita yang mmenempatkan agama sebagai landasan :)

mencintai seseorang dalam hidup ini bukanlah kesalahan
yang menjadi permasalahan adalah ketika dimana kamu terus mengejarnya
dan ia sedemikian cepatnya hingga meningalkanmu
dan menciptakan jarak tempuh yang cukup jauh......

mengejar wanita yg di damba dengan tergopohgopoh itu adalah kekeliruaan
karna buat apa mengejar orang yang berlari dan membelakangi
bila mana wanita yang berada di belakangmu menatapmu setia dalam menanti :)

ah.. sudahlah!!!
mnceritakan banyak wanita di dalam hidup ini tdk akan pernah habis :D

yang terpenting sekarang adalah
tingkatkan kualitasmu dalam hidup ini :)
kualitaslah yang kan menjamin
wanita akan datang di sampingmu seiring dengan bertambahnya kualitas hidupmu 
karna wanita ingin di jaga dan di lindungi dengan baik! :)


oiya satu lagi?
" JANGAN TINGALKAN SHOLAT 5 WAKTU Y "








pasti " MATI " kn? :)






















ayah & ibu :)

read more

Jumat, 23 November 2012

Hawa seharusnya

1 komentar




















hawa..
tahukah engkau siapa dirimu ini ?
engkau adalah seorang bidadari dari hari yang berganti
meninggalkan stiap detik keindahan dengan sebuah kesalahan
melewatkan anugerah tuk dapat jadikan dirimu yang terindah


hawa..
tahukah engkau siapa dirimu kini ?
engkau adalah seorang bidadari di hari nanti
maka jadikanlah dirimu hawa penghuni syurgawi
karna hati mu mengerti di mana kan damai bila mana waktu kan terhenti


hawa..
jadi tahukah siapa engkau seharusnya ?
engkau adalah hawa sholehah berbalutkan sutra mukenah
maka jadikanlah sajadah tuk temani setiap ibadah
karna hati mengerti kemana arah hidup kan terarah


hawa..
pernahkah kau sejenak tersentak tuk dapat mengingat ilahi
pernahkah kau sejenak tersentak tuk dapat mengingat mati
pernahkah kau sejenak tersentak tuk befikir kemana kau kan kembali
pernahkah kau sejenak tersentak tuk berfikir sudahkah kau berserah diri


hawa..
jadi lihatlah dirimu kini
adakah tubuhmu tertutup rapi
adakah air mata berlinang membasahi pipi
di saat doa terucap dosa telah terbuat
di saat kau bertobat terlambat kau wafat
di saat kau dapat kau tak lagi dapat berbuat
di saat kau terlelap di saat tubuh terbaring di liang lahat..



read more

Rabu, 22 Juni 2011

Eksistensi kehidupan

0 komentar

Kini ku masih bersama jiwaku
jiwa yang menyusup tabir hidupku
jiwa yang mengiring langkah singkatku
jiwa yang mengisi hati dan fikiranku
jiwa yg beredar di setiap nadi-nadiku
jiwa yang berdetak lirih di tiap denyut jantungku
dan bila saatnya nanti ku berlalu
ku kan selalu mengenang masa yg kan menentu
massa yang mnghantarkan kepada jenjang usiaku
tuk gapaikan semua angan-anganku

read more

Senin, 20 Juni 2011

Sahabat canda

0 komentar
Kebersamaan yang kau kirim dalam tawa
menjadikan atmosfer indah kan rasa bahagia
saat canda melenyapkan sunyi dan duka
begitu nyata berada pada hati dan jiwa
sapa ku pilah pinta saat kita duduk bersama
hayalkan kenangan berlalu sembilu pilu dan sedu
jabatkan tangan dalam angan kan terkenang
bersenda gurau dalam senang kan terbayang


bila waktu kembali
ingin ku ulang masa ini..




read more

Minggu, 19 Juni 2011

Tangisan hati

0 komentar
Air mata berlinanglah seinginmu
karna hati ini tahu kau ingin mengalir
biar pipi ini dengan setia menjadi wadah kepadamu tuk brlabuh

bila saatnya nanti ia tak mampu
biarlah tangan hadir tuk mengusapnya..

Malam..
biarakan aku menangis karna aku tak kuasa menahannya
aku terjatuh namun aku tak mampu berdiri
malamku terlalu gelap tuk temani derai tangisku
aku mohon berikan gelap malammu agar tak satupun orang melihatku pilu

karna aku ingin sndiri
menikmati tangis hati ini..


read more